Senin, 16 Januari 2012

kuliah di negeri Jiran malaysia murah lho??

Perguruan tinggi (PT) Malaysia menawarkan pendidikan murah bagi para calon mahasiswa yang hendak melanjutkan di negeri jiran. Hal itu dipromosikan di stan Malaysia Education Promotion Centre in Indonesia di Edu Ekspo SMA 1 Semarang, Kamis (12/1) - Sabtu (14/1).

Penasihat Kedutaan Besar Malaysia bidang Pendidikan, Yahurin Mohd Yassin menjelaskan, yang berminat, perguruan tinggi di sana menawarkan berbagai program, mulai kuliah dengan double degree hingga biaya hidup yang terjangkau.
”Dengan tinggal di kos dan hidup wajar, sebulan mahasiswa hanya mengeluarkan biaya sebesar Rp 3 juta, sedangkan yang ingin mendapat dua gelar dalam menempuh pendidikan di perguruan tinggi, ada juga universitas yang menyediakan program itu. Terbukti dengan program yang ada, hingga kini tercatat 10.000 mahasiswa dari Indonesia yang belajar di Malaysia,” katanya direktur Malaysia Education Promotion Centre in Indonesia itu.

Stan perguruan tinggi Malaysia di antaranya Nilai University College dan Lim Kok Wing University turut meramaikan Edu Ekspo dan Smansa Cup yang diselenggarakan SMA 1 Semarang dan dibuka Wali Kota Semarang Soemarmo HS itu.
Selain PT dari luar negeri, 18 stan perguruan tinggi negeri dan swasta juga berpartisipasi, seperti Universitas Diponegoro (Undip), Universitas Negeri Semarang (Unnes), Institut Pertanian Bogor (IPB), Unisbank, IKIP PGRI Semarang, Stifar, Unwahas, Untag, dan Udinus.

Pendidikan Lanjut

Kepala SMA 1 Semarang Bambang Nianto Mulyo mengatakan, kegiatan Edu Ekspo dan Smansa Cup yang digelar untuk kali kedua ini untuk memfasilitasi siswa yang mencari informasi tentang pendidikan lanjut ke perguruan tinggi, sekaligus mewadahi potensi siswa dari SMP dan SMA lain dengan lomba-lomba.

”Untuk Edu Ekspo kami hendak memberikan kesempatan kepada siswa dalam merencanakan masa depannya. Alasan kami menggandeng PT dari luar negeri, karena sekitar 2%-3% lulusan SMA 1 Semarang melanjutkan pendidikan ke sana,” katanya.

Adapun kompetisi di Smansa Cup di antaranya lomba futsal, lomba baris-berbaris, basket three on three, dan modern dance. Kompetisi untuk bidang akademik di antaranya lomba matematika, story telling, serta teknologi informasi dan komunikasi.

Wali Kota Semarang Soemarmo HS pada pembukaan kegiatan tersebut mengemukakan, agenda rutin Smansa Cup dan Edu Ekspo ini sebagai perwujudan bahwa SMA 1 Semarang tidak mendidik dalam keilmuan saja, tetapi membantu Kota Semarang untuk promosi. Hal itu dibuktikan dengan peran serta perguruan tinggi luar negeri yang hadir di Edu Ekspo.
sumber : www. suara merdeka.com

pentingkah uji kompetensi buat guru????????????????????

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Mohammad Nuh mengatakan uji kompetensi bagi guru penting untuk mendapatkan sertifikasi mengajar.

"Sertifikasi itu sebagai bagian dari pengakuan terhadap profesi seseorang, jika dianggap telah profesional dengan profesinya maka harus memenuhi kompetensinya," kata Nuh kepada wartawan usai konferensi menggunakan video dengan sejumlah kepala dinas pendidikan di sejumlah provinsi di Indonesia, Senin.

Menurut Nuh, ada empat kompetensi yang harus dipenuhi seorang profesional seperti kompetensi akademik, kompetensi pedagogik, kompetensi sosial, dan kompetensi profesi.

Nuh berpesan para guru yang akan mengikuti ujian tidak perlu risau karena tes tersebut tidak akan melebihi kemampuan di mana guru tersebut mengajar.

"Uji kompetensi tidak perlu dirisaukan, yang terpenting ujian itu tidak melampaui batas di mana sang guru ditempatkan. Jika yang diuji guru Sekolah Dasar maka ujiannya tentang bagaimana dia mengajar di SD, bukan tingkat lain," jelas Nuh.

Nuh menjelaskan bagi para guru yang telah mendapat sertifikasi maka mereka tidak akan diiukutsertakan dalam ujian tersebut.

"Kami hanya ingin menguji guru-guru yang baru agar anak Indonesia dapat diajar oleh guru yang kompeten di bidangnya," ujar Nuh.
sumber:antara news.com

setujukah kamu dengan kurikulum ini ????

budaya menanam masuk kurikulum ????
Budaya menanam pohon akan diperkenalkan sejak dini kepada siswa sekolah dengan memasukannya dalam kurikulum sekolah sebagai salah satu upaya mendukung upaya rehabilitasi dan konservasi hutan dan lahan. Hal itu dikatakan Direktur Rehabilitasi Hutan dan Lahan Kementerian Kehutanan, Billy Hindra, Minggu (1/1/2012). Billy mengungkapkan, budaya menanam akan disisipkan baik dalam kegiatan kurikuler mau pun ekstra kurikuler.

Menurutnya, memasukkan bidaya menanam pohon dalam kurikulum baik silabus maupun mata pelajaran merupakan salah satu poin penting dalam kesepahaman antara Kementerian Kehutanan dengan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Kesepahaman ini salah satunya untuk mendukung penanaman satu miliar pohon. Penandatanganan nota kesepahaman melibatkan berbagai tingkatan pendidikan, mulai dari pendidikan usia dini, sekolah dasar, sekolah menengah, hingga pendidikan tinggi.

Nota kesepahaman tersebut mulai berlaku sejak ditandatangani dan akan berlaku selama tiga tahun dan dapat diperpanjang sesuai dengan kebutuhan kedua belah pihak.

"Nantinya, siswa juga diajarkan cara menanam pohon di lingkungan sekolah mau pun lingkungan sekitarnya," kata Billy.

Menurut Billy, pihaknya akan melakukan sejumlah langkah seperti menyiapkan modul atau buku panduan menanam dan materi tentang pentingnya rehabilitasi hutan dan lahan dalam agar terjadi sinkronisasi dalam menyusun mata pelajaran. Selain itu, Kemenhut juga akan menyediakan bibit pohon yang bisa dimanfaatkan oleh pengajar mau pun peserta ajar untuk ditanam.

"Kami punya modul menanam pohon yang bisa dimanfaatkan. Ada juga program Kecil Menanam Dewasa Memanen. Nanti kami juga akan memberikan dukungan penyuluh, yang bisa menjadi guru tamu di sekolah-sekolah," katanya.

Pada kesempatan yang sama, Sekretaris Ditjen Pendidikan Menengah Kemendikbud, Mustaghfirin Amin, mengatakan, akan segera menerapkan penyisipan budaya menanam. Percontohan awal akan diterapkan pada SMA dan SMK.

"Penyisipan menanam pohon ini segera kami implementasikan. Tahap awal akan kita berikan pada 1.500 sekolah SMA dan SMK percontohan. Untuk anak usia dini dengan menengah, tentu beda cara penyisipannya. Kemudian, untuk materi pelajaran yang disisipkan juga menyesuaikan. Mungkin awalnya disisipkan dalam mata pelajaran biologi, dan ekstra kurikuler," kata Mustaghfirin.

Pada kegiatan ekstra kurikuler, budaya menanam akan diperkenalkan melalui kegiatan seperti Pramuka dan Palang Merah Remaja. Selain itu, kegiatan budaya menanam juga akan dikenalkan melalui kegiatan ko-kurikuler, misalnya, pada majalah dinding.

Ia mengungkapkan, beberapa sekolah yang sudah menjadi pelopor tumbuhnya budaya menanam, di antaranya SMK 57 Jakarta, SMK 1 Bekasi, SMK 1 Sukabumi, SMK Pacet, dan SMK 2 Subang.
sumber.www.kompas.com

study di Australia siapa mau???

kenapa pilih Australia??
Australia merupakan tujuan studi yang semakin populer dengan siswa internasional dari seluruh belahan dunia. Bagi banyak siswa, Australia merupakan tujuan studi yang lebih baik daripada alternatif populer lain seperti Inggris dan Amerika.

Bacalah seterusnya untuk mengetahui mengapa...

Aman dan ramah


Australia memiliki masyarakat yang ramah dan multi-budaya, dengan penduduk yang berasal dari sekitar 200 negara. Penduduk Australia memiliki reputasi sebagai salah satu yang paling ramah di dunia, dan kota-kota Australia aman dan bersih, dengan tingkat kejahatan yang rendah. Sifat multi-budaya Australia berakar dari kombinasi budaya Aslinya, pemukiman awal kaum Eropa dan imigrasi massal. Hampir 40 persen penduduk Australia berasal dari latar belakang budaya campuran. Australia sangat bangga akan keanekaragaman penduduknya, dan menikmati variasi budaya dan makanan yang dibawanya. Australia juga merupakan sebuah negara sekuler, yang berarti tidak mempunyai agama resmi. Masing-masing ibukota mempunyai tempat beribadah bagi berbagai agama dari seluruh dunia.

Gaya Hidup

Gaya hidup dan kualitas hidup di Australia merupakan salah satu yang terbaik di dunia. Beberapa ibukota Australia selalu masuk peringkat kota-kota ‘yang paling layak huni’ di dunia. Survei kualitas hidup di seluruh dunia tahun 2009 yang diadakan oleh Mercer Human Resource Consulting menunjukkan bahwa lima kota Australia masuk dalam 40 terbaik untuk kualitas hidup secara keseluruhan. Sydney menduduki peringkat 10, Melbourne 18, Perth 21, Adelaide 30 dan Brisbane 34, sedangkan kota terbaik AS, Honolulu, menduduki peringkat ke 29, dan kota terbaik Inggris, London, ada di peringkat 38.

Ketahui lebih lanjut tentang daerah-daerah di Australia

Nilai untuk uang

Program pendidikan Australia memberi nilai yang sangat besar untuk uang Anda, dan seringkali jauh lebih murah daripada program serupa di Inggris dan AS. Program-program studi Australia seringkali lebih singkat daripada yang ditawarkan di negara lain. Sebagian besar program gelar dapat diselesaikan dalam waktu tiga tahun, dan bahkan lebih cepat jika lembaga pendidikannya menyediakan sistem tiga semester. Ini berarti Anda dapat menghemat satu tahun penuh biaya studi jika Anda belajar di Australia daripada di AS atau Inggris.

Ketahui lebih lanjut tentang rata-rata biaya program studi di Australia

Biaya hidup yang rendah

Survei biaya hidup 2008 dari Mercer Human Resource Consulting menunjukkan bahwa hanya dua kota Australia, Sydney di peringkat 15 dan Melbourne di peringkat 36, yang muncul di daftar 50 kota termahal untuk dihuni. London, Inggris, adalah kota termahal ketiga dunia, sedangkan New York ada di peringkat 22.

Rabu, 11 Januari 2012

sejarah pengembangan internet di indonesia dan dunia

sejarah pengembangan internet di indonesia dan dunia
Information Technology and Telecommunications (Information and Communication Technology / ICT) are the backbone of Web 2.0 applications. Development of Information and Communications Technology and became a phenomenal early emergence of the web application is the Internet. Internet which originated from research to defense and security and education support tool developed into a business that is very influential. In connection with this Web 2.0 applications, there are some important events in the history of the internet.
Starting in 1957, through the Advanced Research Projects Agency (ARPA), the United States was determined to develop an integrated communications network that connects between the scientific community and military purposes. This is motivated by the cold war between the United States with the Soviet Union (in 1957 the Soviets launched sputnik).
The first major development of the Internet is the most important invention of packet switching ARPA in 1960. Packet switching is sending a message that can be broken down into smaller packages, each package can be through a variety of alternative pathways damaged if one of the main pathways to achieve the intended purpose. Packet switching also allows the network can be used simultaneously to do a lot of connections, in contrast to telephone lines that require dedicated lines to connect. So when the ARPANET into national computer network in the United States in 1969, packet switching is used as a whole as a method of communication to replace circuit switching used on public telephone lines.
The development of the Internet both recorded in the history of the internet is the development of a network layer protocol known as the most widely used today is TCP / IP (Transmission Control Protocol / Internet Protocol). A protocol is a set of rules to relate antarjaringan. This protocol was developed by Robert Kahn and Vinton Cerf in 1974. With the standard protocol and widely agreed upon, then the local network scattered in different places can be interconnected to form a giant network even now reach the entire world. Network using internet protocol is what is often referred to as the Internet network.
ARPANET networks become increasingly large since then and started to be managed by private parties in 1984, then joined a growing number of universities and commercial companies began to enter. Protocol TCP / IP into an agreed common protocol so that it can communicate with each other on this internet network.
The third major development is the establishment applications Internet World sejarah pengembangan internet di indonesia dan dunia
Wide Web in 1990 by Tim Berners-Lee. Application of the World Wide Web (WWW) has become the anticipated content of all Internet users. WWW makes all users can share a variety of applications and content, as well as linking together material scattered on the internet. Since then the growth of Internet users skyrocketed.
Development of the Internet gives the influence
The Internet has made a new revolution in the world of computer and communications world that has never previously suspected. Some findings telegraph, telephone, radio, and computers is a series of scientific work that led to the creation of the Internet a more integrated and more capable than those tools. Internet has the capability of broadcasting to the world, has a mechanism of information dissemination, and as a medium for collaboration and interaction between individuals with the computer without being limited by geography.
The Internet is a most successful example of business investment that can never stop and a commitment to research following the development of information technology infrastructure. Starting with a study packet switching (packet switching), government, industry and the civitas academica have collaborated effort to change and create this exciting new technology.
Historical development of the intenet can be divided into four aspects, namely
1. The existence of aspects of technological evolution that began from the research packet switching (packet switching) ARPANET (the following technology equipment) which was then carried out further research to develop insights into the data communications infrastructure that includes multiple dimensions such as scale, performannce / reliability, and high levels kefungsian.
2. The existence of aspects of the implementation and management of a global and complex infrastructure.
3. The existence of the social aspects resulting in a large community consisting of the Internauts who continue to work together to create and develop this technology.
4. The existence of the commercial aspects resulting in an extreme but effective changes from a study that resulted in the formation of a large infrastructure and useful information. The Internet is now already is a global information infrastructure (widespread information infrastructure), which was originally called "The National (or Global or Galactic) Information Infrastructure" in the United States. Its history is very complex and covers many aspects such as technological, organizational, and community. And its influence not only on the field of computer communication techniques but also affects the social problems as of now we do a lot of us use the tools on line to achieve
History of the Internet and Internet Development
History of the intenet began in 1969 when the U.S. Department of Defense, U.S. Defense Advanced Research Projects Agency (DARPA) decided to conduct research on how to connect several computers to form an organic network.
This research program known as the ARPANET. In 1970, already more than 10 computers are successfully connected to each other so that they can communicate with each other and form a network.
In 1972, Roy Tomlinson managed to complete the e-mail program that he created a year ago for the ARPANET. E-mail program is so easy that immediately became popular. In the same year, @ icon is also introduced as an important symbol that shows the "at" or "on". In 1973, ARPANET computer network was developed outside the United States.
Computer University College in London was the first computer that are outside the United States who are members of Arpanet network. In the same year, two computer experts that Vinton Cerf and Bob Kahn presented a larger idea, which became the forerunner of the Internet thinking. This idea was presented for the first time at the University of Sussex.
The next historic day is dated March 26, 1976, when the Queen of England managed to send an e-mail from the Royal Signals and Radar Establishment at Malvern. A year later, already more than 100 computers on the ARPANET joined to form a network or network. In 1979, Tom Truscott, Jim Ellis and Steve Bellovin, creating the first-named newsgroups USENET. In 1981 France Telecom created a buzz with the launch of the first television phone, where people can call each other while associated with the video link.
Because the computers that form a network of daily increasing, it takes a formal protocol that is recognized by all networks. In 1982 formed the Transmission Control Protocol or TCP and Internet Protocol or IP that we know all. Meanwhile in Europe appear counter computer network known as Eunet, which provides computer network services in the countries of Holland, England, Denm
ark and Sweden. Eunet network providing e-mail and USENET newsgroups.
To homogenize the address on an existing computer network, then in 1984 introduced the domain name system, which now we are familiar with DNS or Domain Name System. Computer connected to the existing network has more than 1,000 computers. In 1987 the number of computers connected to the network soared 10-fold manjadi 10,000 more.
In 1988, Jarko Oikarinen of Finland found and also introduces IRC or Internet Relay Chat. A year later, the number of interconnected computers soared 10-fold return in a year. No fewer than 100,000 computers are now forming a network. 1990 is the most historic year, when Tim Berners Lee to find a program editor and browser that can roam from one computer to another computer, which form a network. The program is called , or Worl Wide Web.
In 1992, computers that are connected to form a network already exceeded a million computers, and in the same year the term surfing the internet. In 1994, the website has grown into a 3000 page address, and for the first time in a virtual-shopping or e-retailer appears on the internet. The world changed. In the same year founded Yahoo!, which is also well-born Netscape Navigator 1.0.
What is Internet? Let us try to describe understanding of the Internet.
The Internet is a global network of computers of the world, large and very wide at all where any computer connected to each other from country to country around the world and contains a wide range of information, ranging from text, images, audio, video, and more.
Internet itself is derived from the word Interconnection Networking, which means the relationship of many computer networks with different types and kinds, using this type of communication such as telephone, salelit, and others.
In regulating the integration of computer and communications network that uses the protocol TCP / IP. TCP (Transmission Control Protocol) duty to ensure that all links work properly, while the IP (Internet Protocol) which transmits data from one computer to another. TPC / IP in general serves to choose the best route of transmission of data, choose an alternate route if a route can not be in use, manage and transmit data packets delivery.
To be able to participate using the Internet facility, you must subscribe to one ISP (Internet Service Provider) that exist and serve your area. ISPs are usually called Internet service providers. You can use the facilities of Telkom such as Instant Telkomnet, speedy and also other ISP services such as first media, netzip and so on.
The Internet offers many benefits, one can provide benefits both good and bad. Well when used for learning information and bad when used for things that pornography, violence information, and others are negative.
Internet allows computer users worldwide to communicate and share information with each other how to send emails, connect one computer to another computer, send and receive files in the form of text, audio, video, discuss specific topics on the newsgroups, social networking websites and others.

wirausaha di manajemen pendidikan

wirausaha di manajemen pendidikan
It took close to 40 years for an entire infrastructure of entrepreneurship courses, program’s, teaching positions and centers to emerge in management schools across India, since an entrepreneurship course was first offered in the USA to Harvard MBA students in 1947. Several management schools in India now have at least one course in entrepreneurship, many have a more complete curriculum, and a few integrate entrepreneurship throughout their educational approach. In the last few years, some management schools in India have taken certain steps by making entrepreneurship a part of their activity. The Indian School of Business, Hyderabad, has instituted Wadhwani Centre for Entrepreneurial Development, the Indian Institute of Management, making, bangalor Bangalore has Nadadur S Raghavan Center for Entrepreneurial Learning. In recent years, a lot of entrepreneurship contests have also been organized by various management schools like IIT-Bombay.s annual business plan competition – Eureka and Ideas 2 Implementation organized by IIM Calcutta.

The more traditional management curricula in India predominantly focus on functional
and strategic management of commercial, corporate and organized sectors. However, the need for a more efficient and professional entrepreneurship culture that is likely
to socially impact sectors such as energy, power, transport, irrigation, telecom, education, health, and development especially poverty reduction, is being increasingly recognized in many informed circles. The reason has to be that if more individuals start business ventures in these sectors, not only can the quality of life of people in general improve, but the efficiency, productivity and profitability of these sectors also stand to gain. Entrepreneurs increase competitive pressure, forcing other firms to react by improving efficiency or introducing innovation. Increased efficiency and innovation within firms, whether in organization, processes, products, services or markets, enhance the competitive strength of an economy as a whole. This process offers consumers benefits through greater choice and lower prices.

The concern to foster entrepreneurial drive becomes more important as the rate of growth of employment /jobs in Indian large organizations / corporate sector is much lower compared to the number of graduates coming out of management schools. In the last decade, the growth of employment / self-employment opportunities in the small-scale sector is rising faster, compared to other sectors. Even those not self employed and working for other owners need to cultivate an entrepreneurial orientation to effectively face increasing competition within the organized sector.
Integrating entrepreneurship in management curricula can also help those who do not have the benefit of an entrepreneurial family background and upbringing. Social economy enterprises can supplement public resources and extend the range of services offered to consumers. Thus, it makes .business. sense for managers, strategists and policy-makers at all levels to become more aware of new entrepreneurial initiatives, either starting a new firm or reorienting an existing one (e.g., after the transfer of a business to a new owner), to boost productivity. Thus there is a need to consider selectively incorporating the developmental, economic, strategic, behavior-attitudinal, and functional aspects of entrepreneurship in
management curricula.

Read more: http://wiredcpu.com/entrepreneurship-in-management-education/#ixzz1jAKHukGI

lecture and money

money and lecture
Pengalaman menjadi mahasiswa. Baik di kelas lewat ‘celotehan inspiratif’ maupun serpihan inspirasi yang saya kumpulkan di sepanjang jalan yang saya lewati. Ada beberapa teman saya yang sudah menjadi guru. Mereka mengajar. Ada yang menjadi pengajar komersil di bimbel atau privat, tetapi ada juga yang menjadi pengajar sukarela di rumah belajar, rumah baca, atau apalah namanya. Keduanya memang sama-sama dibutuhkan mahasiswa. Menjadi pengajar komersil untuk tambahan uang di tengah harga bahan pokok kuliah (buku, fotocopy, pulsa, dll) yang terus melambung dan menjadi pengajar sukarela untuk melatih sensitivitas mahasiswa terhadap masalah akar rumput. Akan tetapi, tetap saja, keduanya memiliki beberapa perbedaan. Salah dua perbedaannya adalah soal persiapan sebelum mengajar dan dibayar atau tidaknya seorang pengajar.

“Aduh, 4 jam lagi ada panggilan ngajar nih di blablabla (tempat dirahasiakan). Mendadak banget sih. Gimana persiapannya coba.” Ujar teman saya dengan agak panik sambil mencari buku rangkuman pelajaran IPS yang dia punya saat SMA. Itulah sedikit ilustrasi bagaimana pengajar komersil menyiapkan dirinya saat ingin mengajar. Mereka biasanya membaca materi yang seringkali sudah sempat dia pelajari, tetapi baru ingat lagi karena ingin mempersiapkan diri mengajar. Kalau saja, murid yang diajarkan sedikit kritis, bisa saja sang guru itu gelagapan karena dia tidak memegang akar materi yang diajarkan dengan kuat. Sang guru hanya memahaminya di permukaan. Meski tak tahu pasti, saya rasa ada juga pengajar komersil di sekolah atau lebih akrab dengan istilah guru yang serupa kasusnya dengan pengajar komersil di bimbel tersebut.

Pemahaman permukaan semacam itu membuat ilmu pengetahuan tidak lagi menjadi sebuah kenikmatan hati yang menggelayut di dada para pengajar, apalagi para pembelajar. Para pengajar hanya menjadikan aktivitasnya itu sebagai sarana mendapatkan uang. Tidak lebih. Maka menjadi wajar ketika para pembelajarnya pun hanya belajar tak lebih untuk mengerjakan soal-soal. Itulah mengapa, meski saya juga mau uang, saya masih belum terpikir untuk menjadi pengajar komersil di bimbel. Entah, bagaimana nanti.

Saya pikir, situasinya agar berbeda pada pengajar sukarela. Mereka biasanya mengajar untuk anak-anak sehingga materinya pun tidak terlalu berat dan lebih banyak bermainnya. Mereka tidak banyak mempersipakan materi yang njelimet segala macam, modal mereka hanya pengalaman hidup dan keceriaan yang berusaha mereka bagi. Ini dia bedanya. Mereka mengajar untuk berbagai. Dalam arti, apa yang berikan adalah apa yang memang telah lama menempel dalam dirinya. Bukan materi yang baru saja dia baca di buku rangkuman. Itulah mengapa, terkadang nasihat dari seorang kakek atau nenek itu terasa lebih mengena sekaligus menyejukkan. Karena nasihat itu berakar dari pengalaman hidup mereka yang telah mengkristal menjadi sebuah kearifan, tingkat tertinggi dari ilmu pengetahuan.

Terlebih, pengajar sukarela itu tidak dibayar. Mereka seperti kehilangan salah satu alasan utama untuk tidak tulus dalam mengajar. Secara alamiah, prinsip kesukarelaan ini akan menyeleksi para pengajar menjadi hanya yang benar-benar ingin berbagi dan mengincar kenikmatan hati dalam mengajar saja. Contoh lain yang agak unik adalah pengajar dalam kelompok mentoring ke-Islam-an atau kerap kali disebut halaqah. Mereka biasanya ada materi, tetapi materi tersebut sebisa mungkin tidak hanya dipahami secara mendalam tetapi juga dipraktekkan oleh si pengajar. Arah dari materi pun sebisa mungkin diarahkan pada hal-hal yang bersifat aplikatif misalnya disertai dengan pengecekan amalan harian seperti sholat atau tilawah (membaca Quran). Sejauh yang saya lihat, kesukarelaan adalah cara terbaik untuk mengajar.

Meskipun begitu, saya tidak menafikan ada yang coba memadukan keduanya. Salah satu yang cukup berhasil adalah Gerakan Indonesia Mengajar (IM). Bukan bermaksud mendewa-dewakan IM. Akan tetapi, memang baru IM-lah gerakan pengajaran yang terpublikasi dengan baik di tengah masyarakat. Anis Baswedan beserta tim saya rasa cukup mampu membuat profesi sebagai pengajar komersil (di SD pelosok) tetap memiliki sense kesukarelaan yang berakar pada filosofi mengajar yang dalam. Saya pun tidak menafikan adanya pengajar-pengajar komersil yang meski mengejar uang demi memenuhi kebutuhan hidup, tetapi tetap mengajar dengan tulus dan sepenuh hati.

Ya! Uang memang godaan berat bagi setiap pengajar untuk tidak tulus mengajar. Menggoda pengajar untuk sekadar menyampaikan materi tanpa pemahaman mendalam dan keikutsertaan hati. Namun, jika mereka mampu mengatasinya. Whyyyyyyyyyy notttttt????
by ainna

EsMK bisa Indonesia Bisa

Education in EsMk sebagai proses pembelajaran yang panjang dari pemangku kalangan kepentingan politik

Walaupun bukan ulat atau semut hitam, EsemKa sedang naik daun sekarang, terutama setelah salah satu karyanya dipakai oleh Walikota Solo Joko Widodo. Semua orang terhenyak dengan hasil karya anak bangsa yang begitu mempesona. Mulai dari mobil SMK-2 Solo sampai dengan pesawat terbang Jabiru SMK-29 Jakarta, seolah memperlihatkan SMK sedang meninggalkan lawan-lawannya di arena “Formula-1″ pendidikan. Belum lagi SMK-SMK lain dengan hasil karya yang membanggakan, mulai dari inovasi pertanian, otomotif, kimia sampai elektronika. Kelihatannya setelah dulu menjadi “anak tiri”, SMK bangkit menyeruak kekuatan segmen pendidikan yang patut diperhatikan.

Melalui Tag-line “SMK bisa”, perlahan-lahan program yang dikomandani oleh DR. Joko Sutrisno sebagai Direktur Pembinaan SMK KemDikBud telah memperlihatkan hasilnya. Hampir di semua daerah perkotaan dan pedesaan, kebanggaan menjadi siswa SMK begitu besar. Hal ini menjadikan animo semua pemangku kepentingan termasuk guru, siswa, wali dan dinas pendidikan serta kalangan lain bisa bersatu padu dalam pencapaian hasil pendidikan. Bahkan di beberapa daerah, animo masyarakat untuk memasukkan anaknya ke SMK dapat mengalahkan animo masuk SMU karena “Brand” yang lebih kuat melalui iklan TV, pencapaian siswa, kebutuhan dunia usaha dan lain-lain.

Hal ini tidak datang tiba-tiba, saya masih ingat dengan peran ayah sebagai pensiunan pengawas Dikmenjur (Pendidikan Menengah Kejuruan). Beliau pada kurun tujuh-puluhan sampai akhir sembilan-puluhan berusaha keras untuk juga membangun kompetensi dan strategi SMK-SMK di Jawa Barat. Dan sekarang, kelihatannnya program pendidikan SMK saat ini sudah “cukup membumi” sehingga bisa memberikan kepuasan pada kalangan ”Academic, Business & Goverment” (Akademis, Bisnis dan Pemerintah). Pada akhirnya ini memberikan “Above Average Return” (Tingkat Pengembalian Di Atas Rata-Rata) pada semua fihak yang terlibat karena mendahulukan filosofis “Benefit” (Manfaat) daripada “Profit” (Keuntungan) …..

Diharapkan filosofis yang sama dapat juga “merasuki” segmen dan tingkat pendidikan yang lain seperti PAUD, SD, SMP, SMU, Perguruna Tinggi serta pendidikan non-formal dan informal….

Jumat, 06 Januari 2012

Mother education

Mother education (Kyoiku Mama)

Salah satu faktor yang berperan membuat Jepang menjadi raksasa ekonomi di paruh kedua abad XX adalah etika kerja dari karyawan yang stereotip.

Orang-orang yang biasa berbaju biru tua inilah yang merupakan mesin penggerak salah satu sukses ekonomi terbesar dalam sejarah modern. Beginilah bunyi cerita yang telah melegenda, sebelum datang kesaksian dari Tony Dickensheets. Dia adalah seorang pendidik Amerika di Charlottesville, Virginia.

Peran ibu

Pada tahun 1996 dia berkesempatan beberapa bulan menetap di Jepang. Selama itu, ia berpindah-pindah tinggal di beberapa rumah keluarga karyawan. Berdasar pengamatannya, dia berkesimpulan, unsur kunci dari economic miracle Negeri Sakura ini ternyata telah diabaikan atau paling sedikit amat dianggap enteng, yaitu peran kyoiku mama atau education mama.

Dengan kataan lain, pertumbuhan ekonomi Jepang yang luar biasa sejak 1960, bukanlah hasil kebijakan pemerintah melalui pekerja yang bersedia bekerja 16 jam per hari. Sementara para suami bekerja, para istri bertanggung jawab atas pendidikan anak-anak. Dalam kapasitas sebagai ibu inilah para istri membaktikan hidupnya demi kepastian keturunan mampu memasuki sekolah-sekolah bermutu.

Maka di balik karyawan Jepang yang beretika kerja terpuji itu ada perempuan umumnya, kyoiku mama atau education mama khususnya. Mereka inilah yang merupakan pilar-pilar kukuh yang menyangga para karyawan itu. Merekalah yang membantu perkembangan ekonomi yang luar biasa dari bangsanya sesudah Perang Dunia. Kerja dan pengaruh perempuan Jepang dapat dilihat dalam jalannya pendidikan nasional dan stabilitas sosial, yaitu dua hal yang sangat krusial bagi keberhasilan ekonomi sesuatu bangsa.

Jadi, perempuan Jepang ternyata berperan positif dalam membina dan mempertahankan kekukuhan fondasi pendidikan dan sosial yang begitu vital bagi kinerja kebangkitan ekonomi bangsanya. Ketika saya sebagai menteri pendidikan dan kebudayaan diundang untuk meninjau berbagai lembaga pendidikan dasar, menengah, dan tinggi negeri ini, saya kagum melihat kebersihan ruang laboratorium di sekolah umum dan bengkel praktik di sekolah kejuruan teknik.

Semua murid membuka sepatu sebelum memasuki ruangan dan menggantinya dengan sandal jepit yang sudah tersedia di rak dekat pintu, jadi lantai tetap bersih bagai kamar tidur. Ketika saya tanyakan kepada guru yang mengajar di situ bagaimana cara mendisiplinkan murid hingga bisa tertib, dia menjawab, “Yang mulia, saya hampir tidak berbuat apa-apa dalam hal ini. Ibu-ibu merekalah yang telah mengajar anak-anak berbuat begitu.”

Saya teringat sebuah kebiasaan di rumah tradisional Jepang, alih-alih menyapu debu di lantai, mereka masuk rumah tanpa bersepatu/bersandal agar debu tidak masuk rumah. Bagi mereka, kebersihan adalah suatu kebajikan.

Di toko buku, saya melihat seorang ibu sedang memilih-milih buku untuk anaknya, seorang murid SD. Ketika saya sapa, dia menyadari saya orang asing, dia tegak kaku dengan tersenyum malu-malu. Ibunya datang mendekati dan menekan kepala anaknya agar membungkuk berkali-kali, sebagaimana layaknya orang Jepang memberi hormat, sambil mengucapkan sesuatu yang lalu ditiru anaknya. Setelah mengetahui saya seorang menteri pendidikan dan kebudayaan, entah atas bisikan siapa, banyak anak menghampiri saya, antre, memberi hormat dengan cara nyaris merukuk, meminta saya menandatangani buku yang baru mereka beli.

Perempuan dan pendidikan

Lebih daripada di negeri-negeri lain, kelihatannya sistem pendidikan dan kebudayaan Jepang mengandalkan sepenuhnya peran perempuan dalam membesarkan anak. Karena itu dipegang teguh kebijakan ryosai kentro (istri yang baik dan ibu yang arif), yang menetapkan posisi perempuan selaku manajer urusan rumah tangga dan perawat anak-anak bangsa. Sejak dulu filosofi ini merupakan bagian dari mindset Jepang dan menjadi kunci pendidikan dari generasi ke generasi. Pada paruh kedua abad XX peran kerumahtanggaan perempuan Jepang kian dimantapkan selaku kyoiku mama atau education mama. Menurut Tony Dickensheets, hal ini merupakan “a purely Japanese phenomenon”.

Yang memantapkan itu adalah kesadaran para ibu Jepang sendiri. Mereka menilai diri sendiri dan, karena itu, dinilai oleh masyarakat berdasar keberhasilan anak-anaknya, baik sebagai warga, pemimpin, maupun pekerja. Banyak perempuan Jepang menganggap anak sebagai ikigai mereka, rasionale esensial dari hidup mereka. Setelah menempuh sekolah menengah, kebanyakan perempuan Jepang melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi.

Jika di Barat ada anggapan perempuan berpendidikan akademis yang melulu tinggal di rumah membesarkan anak sebagai wasting her talents, di Jepang orang percaya, seorang ibu seharusnya berpendidikan baik dan berpengetahuan cukup untuk bisa memenuhi tugasnya sebagai pendidik anak-anaknya. Kalaupun ada ibu yang mencari nafkah, biasanya bekerja part time agar bisa berada di rumah saat anak-anak pulang sekolah. Tidak hanya untuk memberi makan, tetapi lebih-lebih membantu mereka menyelesaikan dan menguasai PR dan atau menemani mengikuti pelajaran privat demi penyempurnaan pendidikannya.

Membantu ekonomi bangsa

Perempuan Jepang membantu kemajuan ekonomi bangsa dengan dua cara, yaitu melalui proses akademis dan proses sosialisasi. Bagi orang Jepang, aspek sosialisasi pendidikan sama penting dengan aspek akademis, sebab hal itu membiasakan anak-anak menghayati nilai-nilai yang terus membina konformitas sikap dan perilaku yang menjamin stabilitas sosial.

Mengingat kyoiku mama mampu membina kehidupan keluarga yang relatif stabil, sekolah tidak perlu terlalu berkonsentrasi pada masalah pendisiplinan. Lalu, para guru punya ketenangan dan waktu cukup untuk membelajarkan pengetahuan, keterampilan, kesahajaan, pengorbanan, kerja sama, tradisi, dan lain-lain atribut dari sistem nilai Jepang.

Menurut Tony Dickensheets, sejak dini para pelajar Jepang menghabiskan lebih banyak waktu untuk kegiatan sekolah daripada pelajar-pelajar Amerika. Lama rata-rata tahun sekolah anak Jepang adalah 243 hari, sedangkan anak Amerika 178 hari. Selain menambah kira-kira dua bulan dalam setahun untuk sekolah, sebagian besar waktu libur anak- anak Jepang diisi dengan kegiatan bersama teman sekelas dan guru. Bila pekerja/karyawan berdedikasi pada perusahaan, anak-anak berdedikasi pada sekolah. Mengingat tujuan sekolah meliputi persiapan untuk hidup bekerja, anak didik Jepang bisa disebut pekerja/karyawan yang sedang dalam proses training.

Walaupun pemerintah yang menetapkan tujuan sistem pendidikan Jepang, keberhasilannya ditentukan oleh orang-orang yang merasa terpanggil untuk menangani pendidikan. Jika bukan guru, sebagian terbesar dari mereka ini, paling sedikit di tingkat pendidikan dasar, adalah perempuan, ibu-ibu Jepang, kyoiku mama. Mereka inilah yang membentuk masa depan Jepang, melalui jasanya dalam pendidikan anak-anak.

Maka sungguh menarik saat di tengah gempita perayaan keberhasilan gadis Jepang menjadi Miss Universe 2007 di Meksiko, ada berita ibu-ibu Jepang mencela peristiwa itu sebagai penghargaan terhadap kesekian perempuan belaka, bukan penghormatan terhadap kelembutan dan prestasi keperempuanan Jepang.

Celaan itu pasti merupakan cetusan nurani kyoiku mama. Berita ini bisa dianggap kecil karena segera menghilang. Namun di tengah pekatnya kegelapan, sekecil apa pun cahaya nurani tetap bermakna besar.

Kamis, 05 Januari 2012

Facebook Turning out to be the Next Big Thing to Get Organ Donors

There is no doubt about the reach of social media networking site Facebook, but little was known that this could also be used for looking for organ donors. It has been found that there are many people who have found their suitable organ match on Facebook after they could not get one from any other mean.

Recently, the news of 38 years old Damon Brown from Seattle had been getting the attention of one and all. It was told that the father of two has found kidney donor on Facebook itself. It was made possible after his friends and family supported the page being run under the name, 'Damon Kidney'. The page caught the attention of many and Jacqueline Ryall came to rescue of the man.

It is not for the first time that someone has got organ donors through Facebook as there are cases of a Michigan man and another Florida woman who have been able to get donors with the help of social media networking sites. This has been even admitted by the United Network for Organ Sharing, a nonprofit organization that manages the nation's organ transplant system for the federal government, that there are many such cases where people have used all possible means in their capacity to reach out to those who can extend their help in this regard.

There have been rampant use of word of mouth or an advertisement to ensure that as much as possible number of people could be reach out to, but it has been found that social media sites have been able to get fair results so far. Perhaps the growing use of Facebook by one and all has opened this avenue for those who have not been able to reach out to possible donors.

As of now, the transplant has been approved and soon Jacqueline would offer her help for saving one’s life.
RIM to be Change in management

The Co-Chief Executives of Research in Motion (RIM), Mike Lazaridis and Jim Balsillie, might soon be stepping down from their post as Barbara Stymiest is being prepared by the company to substitute them. At present, Barbara Stymiest is an independent member of RIM’s board.

Commenting on activities taking place at RIM, the BGC Partner Analyst Colin Gillis, said, “Any talk about an independent chairman is going to give this company a boost. It will increase the likelihood the value of this company will be unlocked. It breaks the stranglehold the current CEOs and co-chairs have on the company”.

Although there are some who believe that the transformation would boost the working of the company, some analysts are doubtful over the capability of Stymiest of taking up the role and challenges al alone. Following the rumors, the shares of the firm witnessed a hike of 7%.

It has been reported that Mike Lazaridis and Jim Balsillie are not only enjoying top position, but are also second and third-largest shareholders of RIM. It is believed that their reluctance in bringing large changes in the firm even at the time of poor sales of PlayBook tablet computer has made the firm to substitute them with Barbara Stymiest.

RIM is not only facing plunge in the sales of Tablet, but also in the sales of BlackBerry. With the pursuit of improving its image in the US market, RIM has extended the discounted sales of its PlayBook at a rate of $299. It has been informed that RIM will continue to hold discounted sales till February.

RIM launched PlayBook last year in the month of April and since then, it has sold about 850,000 units of PlayBook. In 2011 a drop in the prices of share of RIM was witnessed which made the analysts to recommend an outright sale of the company. The firm is yet to take decision over the recommendation.
TELCOM INDUSTRI IN USA

The shares of telecom stocks have received a plunge as the Telecom Ministry is planning to issue a show-cause notice to five operators for reporting under performance and revenue. The operators who have become the subject of Ministries scrutiny include Tata, Vodafone, RCom, Bharti and Idea.

However, before the show-cause notice is issued, the operators would be called for a meeting by Telecom Minster Kapil Sibal. It has further been revealed that the government has raised questions over the authority of telecom tribunal TDSAT for showing interest in the request of the telecom operators, who have challenged the instructions of the government to stop 3G roaming agreement.

After conducting an audit review over the alleged companies’ financial activity from 2006 to 2008, it has come to light that Reliance Communications, Tata Teleservices and Tata Communication, Vodafone, Bharti Airtel and Idea Cellular has to pay Rs 550 crore, Rs 393 crore, Rs 245, Rs 292 crore and Rs 113 crore to the government respectively.

The audit review over the financial activities of the companies was called by Telecom regulator TRAI, in 2009. The Department of Telecom (DoT) was asked by the TRAI to conduct the review. DoT in the report highlighted that the five telecom companies misrepresented their revenues of 2006-2008.

Looking at the gravity of the issue, Kapil Sibal said to the Ministry, “Since most of the issues in dispute seem to be common to all major telecom service providers… I would like to have detailed presentation/discussion on all important issues”.

The operators have been given a time till January 9, 2012 to submit legal papers. After that an official enquiry over the case would be called for. It is yet to be know as to when Sibal will be holding meeting with the operators

Selasa, 03 Januari 2012

jalan jalan ke museum kereta api ambarawa yuks...

MUSEUM KERETA API AMBARAWA



Ikon Kota Ambarawa yang paling terkenal. Walaupun tidak sepopuler Yogyakarta, Borobudur, atau Prambanan, namun Museum Kereta Api ini unik, menarik dan satu-satunya di Indonesia. Hal yang menjadikan museum ini unik lantaran teknologinya. Teknologi yang diusung oleh Museum kereta Api ini bukanlah teknologi terkini, melainkan teknologi kuno peninggalan penjajah Belanda pada waktu itu. Terletak di pusat kota Ambarawa, museum ini bisa dicapai dengan mudah baik dengan angkot maupun berjalan kaki. Dari depan Pasar Projo persis, carilah angkot yang berwarna kuning (upsss...seluruh angkot di Ambarawa berwarna kuning!) dan memiliki warna coklat di bagian bawahnya (nah, ini pembedanya). Kalau nggak yakin, sebut “museum” ketika menaiki angkot tersebut. Angkot tersebut akan memasuki Jalan Brigjen Sudiarto yang merupakan percabangan dari Jalan Jenderal Sudirman. Angkot yang anda naiki tidak akan melaju terus ke selatan menuju Yogyakarta. Nah, seharusnya anda akan diturunkan di Lapangan Pangsar Jenderal Sudirman. Dari lapangan ini, petunjuk mengenai kereta sudah terlihat cukup jelas. Anda cukup berjalan kurang lebih 100 meter untuk mencapai museum.

Jangan kuatir dan jangan kaget, Museum Kereta Api memang terletak di jalan yang tidak terlalu besar. Teruskanlah perjalanan anda melewati Jalan Pemuda. Di percabangan jalan, amati satu buah lokomotif besar yang terletak di tepi jalan. Itulah Jalan Stasiun. Lengkap dengan petunjuk arah untuk masuk ke museum, seharusnya anda tidak salah melangkah. Di sekitar pintu masuk Jalan Stasiun terdapat sejumlah delman dan pengendaranya yang beristirahat. Delman ini adalah delman wisata yang bisa mengantarkan wisatawan ke tempat-tempat menarik di seputaran Ambarawa sambil menyelami atmosfer tempo dulu. Walau tidak terlalu jauh jaraknya, boleh banget kalau anda mau mencoba naik delman untuk masuk ke dalam museum. Hitung-hitung membantu masyarakat sekitar. Hehehe. Masuklah terus ke jalanan kompleks yang asri dan tidak ramai ini sampai anda menemukan rel dan bangunan hanggar kereta. Selamat Datang di Museum Kereta Api Ambarawa!


Kesan pertama yang saya dapatkan ialah : museum ini tidak terawat. Kesan pertama terkadang menyesatkan. Walaupun gerbang utamanya tidak dijaga, rerumputan liar tumbuh di beberapa sudut jalanan aspal yang gompal terkena air hujan, sejumlah bahan material tertumpuk di sisi areal dan sejumlah gudang bekas yang tampak lusuh hadir di pandangan, secara mengejutkan, lokomotif-lokomotif tua yang dipamerkan dalam kondisi baik dan terawat. Memang, jalanan masuk menuju Museum Kereta Api ini sama sekali tidak mencerminkan kesan baik. Untuk turis yang tidak berkeyakinan kuat, pasti akan berbalik arah dan mengambil langkah seribu dech. Hehehe. Untungnya, saya datang pada siang hari dan keramaian masih tampak. Sejumlah anak-anak tampak bermain sepeda di halaman museum. Sejumlah anak-anak lainnya tampak duduk-duduk di sisi bangunan museum. Pada siang itu, tampak beberapa rombongan turis asing dengan diantar pemandu memasuki museum tersebut. “Lumayan”, pikir saya. Setidaknya, bersihnya ruangan dalam museum sudah cukup memberikan impresi yang baik kepada para tamu tersebut. Tepuk tangan untuk bapak-bapak pengelola museum ini!

Museum Kereta Api tidak menggunakan bangunan tertutup. Tampaknya, bangunan museum ini menggunakan stasiun lama yang dibangun pada tahun 1873. Bentuk hanggar mendominasi gedung museum ini. Kini, stasiun yang berdiri pada ketinggian 474,40 meter di atas permukaan laut ini sudah tidak beroperasi lagi. Satu-satunya kegiatan operasional yang masih dipertahankan adalah lori kereta wisata ke Rawa Pening dan Tuntang, serta tur kereta ke Bedono. Sayang, aktifitas ini hanya berlangsung pada saat akhir minggu saja, dimana jumlah pengunjung cukup banyak. Untuk jumlah pengunjung sedikit di hari biasa, mereka mengandalkan sistem carter. Tarifnya 2 juta rupiah untuk sekali jalan, namun mampu mengangkut puluhan orang. Kalau anda backpacker sendirian, sebaiknya melupakan ide ini atau lebih baik lagi, menunggu akhir pekan saja! Tiket masuk museum ini seharga Rp. 3.000, terlalu murah untuk perawatan sebuah bangunan Museum Kereta Api yang penuh dengan sejarah. Anak-anak hanya bayar Rp. 2.000 saja. Di halaman museum, sebelum kita masuk, terdapat sebuah lokomotif tua yang sudah dicat ulang sehingga berkesan rapih (namun tetap bernuansa jaman dahulu) dan menarik. Lokomotif tua ini berfungsi sebagai ikon Museum Kereta Api.

Nah, bangunan utama untuk memamerkan benda-benda perkeretaapian terketak di dalam hanggar tersebut. Bangunan ini bernama Willem I, mungkin ada hubungannya dengan Willem II yang berupa benteng yach? Menariknya, bangunannya tetap dipertahankan seperti dahulu walaupun perawatan tetap dilakukan seperti membersihkan noda dan mengecat ulang warna-warna yang telah pudar. Bangunan ini dibangun pada tahun 1873 (ada tulisan Anno 1873) sehingga usianya sudah satu abad lebih. Secara mengagumkan saya bisa berkata, bangunan ini masih berdiri dengan kokoh dan terawat dengan baik. Ruang pameran terbagi menjadi dua, bagian dalam gedung dan bagian halaman. Bagian dalam gedung Willem I berisi peralatan yang digunakan pada waktu beroperasinya stasiun pada tahun 1873 lalu. Pada bagian halaman, anda dapat melihat aneka jenis lokomotif tua yang dijejerkan di tanah lapang. Di sisi yang berseberangan dengan deretan lokomotif tua, terdapat dua jalur rel yang masih difungsikan untuk kegiatan pariwisata pada saat akhir pekan.

Gedung Willem I adalah bangunan yang bertugas merawat dan menyimpan aneka peralatan perkeretaapian pada jaman dahulu. Aneka onderdil kereta, telepon, mesin ketik, mesin pencetak tiket, potongan rel, hingga furnitur-furnitur yang digunakan pada jaman dahulu terpampang dan terpajang dengan rapih di dalam Gedung Willem I. Banyak sekali benda yang bisa kita lihat dan amati di tempat ini. bangunan ini bahkan memiliki satu ruang simulasi untuk lokomotif dan panel pengendali. Sayang, tamu nggak bisa masuk sembarangan ke ruang tersebut. Mungkin peralatannya cukup rapuh untuk disentuh atau digerakkan pengunjung, oleh sebab itu, peralatan ini semuanya terkunci. Nggak hanya itu saja, bagian-bagian dalam gedung ini terbagi-bagi menjadi ruang masinis, ruang staff, hingga ruang tunggu para tamu VIP dan tamu biasa serta toilet. Toiletnya sendiri masih menggunakan bahasa Belanda, misalnya Dames untuk wanita dan Heren untuk pria. Loket penjualan tiket pada jaman dahulu pun masih dibiarkan utuh seperti jaman dahulu. Loket terletak di setiap ujung Gedung Willem I ini.

Total lokomotif tua yang dipajang di seluruh penjuru halaman museum sebanyak 21 buah. Lokomotif-lokomotif ini rata-rata dibuat pada akhir abad ke 19 atau awal abad ke 20.Karena merupakan lokomotif berteknologi kuno, maka rata-rata, lokomotif-lokomotif tersebut berbahan bakar kayu atau residu. Karena berteknologi kuno juga, kecepatan maksimal kereta ini sekitar 50 KM/jam hingga 90 KM/jam. Para lokomotif tua ini jelas sudah hanya menjadi benda pajangan saja, tanpa pernah dipergunakan lagi. Fisik dari lokomotif tua ini rata-rata masih bagus dan terawat walau beberapa bagiannya tampak jelas sangat termakan usia. Untunglah, pengecatan ulang tubuh lokomotif tua ini mampu membawa nuansa segar dan ketertarikan pengunjung museum. Jangan lupa menyemprotkan cairan anti serangga ke tubuh anda sebelum anda menjelajahi 21 lokomotif, terutama yang berada paling belakang, lokomotif 21, yang terletak cukup jauh dari gedung museum.

Sayang, sekali lagi sayang saya tidak berkunjung ke museum ini pada akhir pekan. Sayang, saya tidak bisa mencicipi rasa menaiki kereta ini menuju Rawa Pening, Tuntang atau Bedono. Buat anda yang berencana mengunjungi museum ini, coba selipkan jadwal kunjungan anda di akhir pekan. Walaupun mungkin akan ramai, setidaknya anda bisa mencoba menaiki kereta tua dengan kecepatan rendah dan romantisme jaman dahulu. Mau mencoba yang nggak ramai? Carter kereta bisa menjadi pilihan yang oke kalau anda berdana lebih. Yaaa...hitung-hitung membantu kelangsungan dana operasional museum juga kali yach? Hehehe.